Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Mengenang Heroisme Grup Musik Klasik di Dek Kapal Titanic

Mengenang Heroisme Grup Musik Klasik di Dek Kapal Titanic
Dalam film Titanic, sebuah grup musik bermain biola tepat saat kepanikan terjadi di dek kapal. Dalam perayaan 100 tahun tenggelamnya Titanic, 8 musisi asal New York akan mengenang kembali kejadian ini di tempat yang sama.
Bagi Anda yang pernah menonton film Titanic, masih ingatkah adegan itu? Ketika para penumpang kalang-kabut menyelamatkan diri, sebuah grup musik dengan tenang memainkan biola dan violin, melantunkan musik klasik. Bukannya tanpa sebab sang sutradara James Cameron memasukkan adegan ini. Karena sebenarnya, grup musik ini benar-benar ada saat Titanic tenggelam tahun 1912 silam.
Waktu itu, ada 8 orang musisi yang tak saling kenal. Semuanya berada di dek kelas dua, yang terpisah jauh dari dek kelas satu. Saat kepanikan mulai terjadi, salah satu musisi bernama Wallace Hartley mengumpulkan semuanya dalam usaha gagah berani dalam menenangkan penumpang. Wah..
Awalnya mereka bermain di dalam ruangan, di dek kelas dua. Saat para penumpang berbondong-bondong menuju dek atas, mereka pun melakukan hal yang sama. Jadilah mereka bermain musik klasik di dek atas kapal Titanic, berharap semua orang akan tenang ketika mendengar lantunan musik klasik.
Dilansir dari situs nypost, Sabtu (14/4/2012), hal inilah yang menggerakkan 8 orang musisi asal New York untuk mengenang kembali sikap heroik tersebut. Delapan musisi ini pun tak saling kenal. Hingga akhirnya mereka berkumpul dan memberi nama grupnya: The Unfinished. Sama ironisnya dengan lagu yang dimainkan mendiang 8 musisi yang ikut tenggelam bersama Titanic.
Rencananya grup ini akan bermain biola dan violin pukul 02.20 esok hari waktu setempat, tepat saat kapal Titanic tenggelam sepenuhnya ke dalam air. Mereka akan melakukan hal ini di atas dek yang sama, dengan udara menggigit kulit khas Samudera Atlantik. Pada pukul 02.20 itu, kapal memorial Titanic sedang berada di titik tenggelam kapal Titanic yang asli.
“Ini menyeramkan. Benar-benar mengerikan saat memikirkan kami bermain musik tepat di titik para korban Titanic tenggelam,” kata Andrew Mayer, salah satu pemain violin kepada situs nypost.
Kemarin siang, The Unfinished telah melakukan persiapan di dek atas kapal. Mereka dihadapkan dengan kenyataan yang cukup pahit: dingin yang menggigit kulit saat mereka nanti bermain pada pagi buta, di tengah Samudera Atlantik. Disinyalir, suhu udara pagi hari di bawah 10 derajat Celcius.
Tapi, hal itu tak mengurungkan niat kedelapan musisi untuk meneruskan perjuangan mereka. Seperti kata Mayer, “Hal itu pasti lebih buruk bagi mereka (yang meninggal dalam tragedi Titanic). Saya bahkan tidak bisa membayangkan betapa dinginnya.”

Foto: telegraph.co.uk
Artikel asli: http://travel.detik.com/read/2012/04/14/155533/1892489/1025/mengenang-heroisme-grup-musik-klasik-di-dek-kapal-titanic?vt22011024
Mengenang Heroisme Grup Musik Klasik di Dek Kapal Titanic

Dalam film Titanic, sebuah grup musik bermain biola tepat saat kepanikan terjadi di dek kapal. Dalam perayaan 100 tahun tenggelamnya Titanic, 8 musisi asal New York akan mengenang kembali kejadian ini di tempat yang sama.

Bagi Anda yang pernah menonton film Titanic, masih ingatkah adegan itu? Ketika para penumpang kalang-kabut menyelamatkan diri, sebuah grup musik dengan tenang memainkan biola dan violin, melantunkan musik klasik. Bukannya tanpa sebab sang sutradara James Cameron memasukkan adegan ini. Karena sebenarnya, grup musik ini benar-benar ada saat Titanic tenggelam tahun 1912 silam.

Waktu itu, ada 8 orang musisi yang tak saling kenal. Semuanya berada di dek kelas dua, yang terpisah jauh dari dek kelas satu. Saat kepanikan mulai terjadi, salah satu musisi bernama Wallace Hartley mengumpulkan semuanya dalam usaha gagah berani dalam menenangkan penumpang. Wah..

Awalnya mereka bermain di dalam ruangan, di dek kelas dua. Saat para penumpang berbondong-bondong menuju dek atas, mereka pun melakukan hal yang sama. Jadilah mereka bermain musik klasik di dek atas kapal Titanic, berharap semua orang akan tenang ketika mendengar lantunan musik klasik.

Dilansir dari situs nypost, Sabtu (14/4/2012), hal inilah yang menggerakkan 8 orang musisi asal New York untuk mengenang kembali sikap heroik tersebut. Delapan musisi ini pun tak saling kenal. Hingga akhirnya mereka berkumpul dan memberi nama grupnya: The Unfinished. Sama ironisnya dengan lagu yang dimainkan mendiang 8 musisi yang ikut tenggelam bersama Titanic.

Rencananya grup ini akan bermain biola dan violin pukul 02.20 esok hari waktu setempat, tepat saat kapal Titanic tenggelam sepenuhnya ke dalam air. Mereka akan melakukan hal ini di atas dek yang sama, dengan udara menggigit kulit khas Samudera Atlantik. Pada pukul 02.20 itu, kapal memorial Titanic sedang berada di titik tenggelam kapal Titanic yang asli.

“Ini menyeramkan. Benar-benar mengerikan saat memikirkan kami bermain musik tepat di titik para korban Titanic tenggelam,” kata Andrew Mayer, salah satu pemain violin kepada situs nypost.

Kemarin siang, The Unfinished telah melakukan persiapan di dek atas kapal. Mereka dihadapkan dengan kenyataan yang cukup pahit: dingin yang menggigit kulit saat mereka nanti bermain pada pagi buta, di tengah Samudera Atlantik. Disinyalir, suhu udara pagi hari di bawah 10 derajat Celcius.

Tapi, hal itu tak mengurungkan niat kedelapan musisi untuk meneruskan perjuangan mereka. Seperti kata Mayer, “Hal itu pasti lebih buruk bagi mereka (yang meninggal dalam tragedi Titanic). Saya bahkan tidak bisa membayangkan betapa dinginnya.”

sumber